Jumat, 24 Juni 2011

Kiprah BIN di Dunia Islam Indonesia




Konspirasi Gerakan Islam dan Militer di Indonesia merupakan sebuah buku yang melaporkan keterlibatan intelijen dalam jaringan Islam radikal.

Kerusuhan Ambon, Maluku, telah merenggut ribuan nyawa manusia. Salah seorang di antaranya bernama Abu Jihad alias Tengku Fauzi Hasbi. Lelaki asal Aceh ini tewas secara misterius pada 22 Februari 2003, bersama dua kawannya Edy Saputra dan Ahmad Syaridup.

Abu Jihad, diculik dari hotel Nisma di Waihaong, Ambon, oleh orang tak dikenal. Ketiganya telah dibunuh pada cara sadis. Mayatnya disembunyikan di bawah tanah tidak jauh dari STAIN, Kebun Cengkeh, Ambon. Pada 21 Mei 2003 delapan orang ditangkap oleh polisi sebagai tersangka dalam kasus ini, di antaranya seorang intel polisi bernama Mohamad Syarif Tarabubun.

Pelaku utama gerombolan itu, bernama Herumanto alias Yanto, mengantar polisi ke tempat ketiga jenazah dikuburkan. Kemudian diadakan penggalian, dan ketiga jenazah itu diserahkan kepada keluarga di Medan dan Jakarta. Walaupun kepada polisi Yanto nyatakan bahwa motivasi pembunuhan itu adalah untuk mendapatkan uang (dan memang, melalui ATM di BCA Yanto tarik 48 juta rupiah dari rekening Abu Jihad –sekaligus mengekspose pelakunya), namun diduga bahwa alasan utama pembunuhan ini ialah pertentangan intern dalam organisasi Jamaah Islamiyah.

Sydney Jones dari International Crisis Group dalam laporannya 11 Desember 2002, “Indonesia Backgrounder: How The Jemaah Islamiyah Terrorist Network Operates,” menyebut Abu Jihad sebagai ketua Jemaah Islamiyah (JI) Asia Tenggara.

Akan tetapi putera Abu Jihad Lamkaruna mengaku bahwa tidak ada hubungan antara ayahnya dengan organisasi JI. Ayahnya adalah pejuang untuk Aceh Merdeka, dan datang ke Ambon dalam rangka perdagangan cengkeh.

Siapakah Abu Jihad sebenarnya? Pada sekitar Mei tahun 1999 atas prakarsa Badan Intelijen Negara (BIN) Abu Jihad dan beberapa elite faksi NII (Negara Islam Indonesia) yang berlainan, antara lain faksi Ajengan Masduki, faksi Tahmid, faksi Abu Toto menggelar Syuro terbatas untuk rekonsiliasi NII, yang diselenggarakan di Cisarua, Bogor, Agustus 1999. Itulah laporan dari buku berjudul Konspirasi Gerakan Islam & Militer di Indonesia, yang disunting oleh sosiolog George Junus Aditjondro. Dalam buku tersebut dituliskan bahwa Abu Jihad adalah anggota TNI (Tentara Nasional Indonesia) yang dipekerjakan di BIN, untuk menyusup ke GAM dan beberapa gerakan Islam radikal. Dari surat-surat yang didapat FORUM, Abu Jihad memang ditugaskan untuk tugas-tugas rahasia tersebut. Surat tersebut datang dari BIN dan Kodam Bukit Barisan.

Nah, soal kematiannya pun, ada yang menduga dihabisi oleh sesama intel karena tugasnya sebagai intel sudah selesai pula.

Kasus Abu Jihad, hanyalah salah satu sosok tentang penyusupan intel dalam tubuh organisasi Islam radikal.

Sosok lain adalah Abdul Haris yang pernah ditangkap pada 2002 di Bogor bersama Umar Al-Faruq. Umar dianggap dalang dalam serangkaian aksi kekerasan di tanah air. Dia kemudian di bawa ke Baghram, Afghanistan, setelah sebelumnya dipenjara di Guantanamo, Kuba. Tapi yang mengagetkan, justeru Abdul Haris malah dilepas. Bahkan, ketika tim penyelidik Mabes Polri ditugaskan untuk menginterogasi Umar, Haris bersama Benny Mamoto dan Gories Mere dari Mabes Polri ikut ke sana.

Karena perannya sebagai intel bocor, maka lelaki yang kini tinggal di Ciputat tersebut, telah berganti nama dengan Ahmad Harris dan tidak pernah dimunculkan lagi.

Model penyusupan seperti ini sudah lama diarsiteki oleh almarhum Ali Moertopo di era Orde Baru dan kemudian dilanjutkan oleh Benny Moerdani. Rekayasa kooptasi intelijen seperti ini, sebenarnya berjalan sangat telanjang, namun kondisi kelemahan di seluruh segi yang dimiliki ummat Islam justru sangat dominan.

Menurut laporan yang tidak diterbitkan ini, keberhasilan menjadikan pecundang para laskar NII sejak tahun 1975 hingga sekarang menjadi bukti akurat adanya kontrol kuat tangan militer-intelijen terhadap gerakan NII tersebut. Dari seluruh rekayasa politik dan operasi intelijen tersebut boleh dikata tak ada yang gagal satu pun. Dalam waktu yang bersamaan pihak intelijen-militer juga berhasil membina dan menyusupkan Hasan Baw dan Prof Parmanto ke dalam gerakan Warman yang saat itu bersama-sama dengan Abdullah Umar dan Farid Ghazali tahun 1978-1979, yang juga melakukan gerakan radikal. Parmanto berhasil dieksekusi Abdullah Umar dan Bambang Sispoyo, melalui modus perampokan, sedang Hasan Baw berhasil dieksekusi Farid Ghazali, Farid sendiri akhirnya tewas oleh aparat tahun 1982.

Tahun 1981 BAKIN (Badan Koordinasi Intelijen Negara) menyusupkan satu anggota kehormatan intelnya, (berasal dari kesatuan Batalyon Artileri Medan-Yon Armed) bernama Najamuddin ke dalam gerakan Jama’ah Imran, melalui aksi provokasi dengan menyerahkan setumpuk dokumen rahasia.

Cara ini dilanjutkan oleh intel Najamuddin dengan merekayasa aksi radikal ekstrem dalam wujud kekerasan bersenjata oleh kelompok ini. Modal awal senjata kelompok ini pun hasil pemberian Najamuddin, dan terjadilah penyerangan terhadap Polsek Cicendo, Bandung. Kemudian berlanjut dengan aksi pembajakan pesawat DC-9 Garuda Woyla di Thailand, setelah sebelumnya kelompok ini menghabisi nyawa Najamuddin, yang tercatat resmi sebagai anggota intelijen BAKIN tersebut.

Penumpasan aksi pembajakan ini ditangani langsung oleh Benny Moerdani yang kemudian mencuatkan namanya ke pentas perpolitikan di tanah air.

Pada tahun 1986 intelijen berhasil kembali menyusupkan agen sipilnya Syahroni dan Syafki mantan preman Blok M, Jakarta Selatan, dalam gerakan Usrah NII pimpinan Ibnu Thayib yang menghasilkan lebih 15 orang NII masuk penjara. Pada tahun 1988, terhitung kurang lebih satu tahun menjelang meledaknya kasus Cihideung, Talangsari Way Jepara, Lampung, salah satu kader intelijen militer yang bertugas di Kodam Jaya Letkol. Hendropriyono mempersiapkan proyek rekayasa intelijen tersebut seraya mengingatkan kepada beberapa komunitas kelompok gerakan agar jangan ada yang ikut terlibat ke Lampung, karena ia telah diperintahkan untuk melibas tandas gerakan tersebut, setelah kelak menjadi Komandan Korem Garuda Hitam, Lampung.

Pada tahun 1986 pihak intelijen juga merekrut kembali Prawoto alias Abu Toto, kader muda NII bentukan Ali Murtopo yang sedang buron dan berada di negeri bagian Sabah Malaysia. Tujuannya, untuk disusupkan kembali ke dalam gerakan NII LK (Lembaga Kerasulan) pada tahun 1987, pada saat itu di bawah kepemimpinan Abdul Karim Hasan. Masuknya kembali Abu Toto ternyata berhasil mempengaruhi dan meyakinkan Abdul Karim Hasan untuk kembali kepada manhaj NII sekaligus menggerogoti dan membusukkan kultur, doktrin struktur organisasi dan sistem kewilayahan NII. Momentum kembalinya Abu Toto sejak tahun 1987 inilah akhirnya menyegarkan gerakan NII kooptasi intelijen untuk bangkit sekaligus mempercepat terjadinya perpecahan dalam struktur NII secara besar-besaran.

Sementara itu, gerakan JI di Indonesia (menurut Kepala Desk Antiteror Menkopolhukham Ansyaad Mbai, berasal dari NII) diduga banyak dikaitkan dengan aksi bom di tanah air.

Ada beberapa nama mencuat seperti Zulkarnaen alias Arif Sunarso dan Hambali yang merupakan elite tertinggi dalam struktur JI faksi tersebut. Struktur di atas Hambali dan Zulkarnaen sebagai koordinator juga masih ada lagi, yaitu nama Abdul Haris dan Abu Jihad. Keduanya berasal dari komunitas Badan Intelijen Negara, Abdul Haris tercatat masih resmi sebagai anggota organik BIN yang disusupkan ke dalam inner circle struktur NII atau JI pimpinan Abdullah Sungkar dan Abubakar Ba’asyir di Malaysia sejak 1991, sementara Abu Jihad tercatat resmi sebagai agen binaan Militer dan Intelijen sejak 1978 yang juga mampu menempel ketat jama’ah Abdullah Sungkar - Abubakar Ba’asyir di Malaysia sejak 1986, namun tragis, Abu Jihad berhasil dihabisi secara canggih di Ambon.

Azahari dan Noordin Mohamad Top yang berada dalam struktur JI faksi Hambali-Zulkarnaen hanya berperan sebagai tim ahli –ahli di bidang peracikan bom, sementara posisi Imam Samudra, Dulmatin, Mukhlas, dan kawan-kawan adalah sebagai tim pelaksana.

Buku ini juga mempertanyakan jika sikap, tekad dan kemampuan Polri yang hanya diarahkan untuk menangkap dan menindak jaringan para pelaku terror bom di sektor bawah.

IMAN FIRDAUS
Sumber : FORUM KEADILAN: No. 31, 4 Desember 2005, hal. 21-22.

Rabu, 25 Mei 2011

Kenangan Di Universitas Nurtanio (1999-2002)

Pada suatu hari 4 orang pedagang buah tertangkap razia oleh Satpol PP, mereka di razia karena berdagang di lokasi yang terlarang untuk berjualan. Merasa kesal dengan ulah para pedagang buah yang telah berulang kali tertangkap tangan berjualan di daerah yang dilarang, Petugas Satpol PP pun melakukan hukuman yang laen dari biasanya supaya mereka kapok berjualan di tempat itu lagi. Pedagang pertama, karena dia pedagang buah lengkeng maka buah itu dimasukan ke dalam anusnya, dia pun berteriak...aduuh!! Pedagang kedua, pedagang buah duku, dia pun dihukum hukuman yang sama, karena buah dukunya besar-besar ketika dihukum dia berteriak...aduuuuhhh!! Pedagang ketiga, berjualan buah rambutan, ketika dihukum dia malah tertawa. Petugas dan pedagang lainya pun terheran-heran. Ketika ditanya "Mengapa kamu malah ketawa?" Rupanya ketika akan dihukum dia membayangkan hukuman buat pedagang keempat disebelahnya yang belum dihukum...Temennya itu pedagan Durian Montong!
Penggalan cerita diatas mungkin pernah anda dengar sebelumnya, tapi maksud saya menampilkan cerita itu hanya sebagai gambaran saja mengenai sedikit kisah kasih ketika menjalani pendidikan di Universitas Nurtanio Bandung. Kerasnya tempaan yang kami alami justru akan menjadi bahan candaan antara sesama teman satu lihting ketika kami bersua kembali. Terkadang kami akan tertawa terbahak-bahak ketika salah satu teman kami memperagakan bagaimana sikap teman kami yang lainnya ketika medapat "Binaan" dari para senior. Memang lumayan berat pendidikan kami pada saat itu. Sebagai gambaran saja, ketika kami tingkat 1, rasanya lebih baik ketemu ama setan kredit dari pada ketemu senior (tapi lebih seneng lagi kalo ketemu Miyabi lg syuting film...hehehe). Tingkat 2 bisa sedikit bernafas lega, satu memori yang paling aku ingat adalah hari pertama sebagai tingkat 2 ketika masuk ke kampus usai long week end. Rasanya aneh ketika kami mendapat hormat dari para junior, sebab selama ini biasanya kami yang harus menghormat. Jika sebelumnya kami hanya menerima pembinaan dan arahan dari senior, kini kami yang harus memberikan arahan, rasanya aneh seh...tapi ada sedikit rasa lega yang kami rasakan. Yah itulah sepenggal kenangan indah yang kami alami di Kampus tercinta. Miss all u guys!!..

Senin, 09 Mei 2011

Kisah Kasih Patah Tulangku

"Sesungguhnya setiap penyakit ada Obatnya", itulah penggalan hadits dari Nabi Muhamad S.A.W yang diucapkan lebih dari 1400 tahun yang lalu. Hadits ini mengisyaratkan bahwasanya semua penyakit itu pasti ada obatnya, hanya saja mungkin kita belum menemukannya. Sepengetahuan aku, penyakit itu penyebabnya dari dua faktor, inside body and outside body. Kalau yang inside itu contohnya penyakit yang dikarenakan bakteri, virus, jamur, gagal fungsi dan sebagainya. Sedangkan yang disebabkan faktor luar antara lain adalah karena ada trauma fisik yang diakibatkan oleh benturan keras, tertusuk benda tajam, tersambar petir, meminum air putih dicampur racun serangga, kebanyakan minum air alias tenggelam, ngak sengaja menginjak kabel listrik yang menyala dan yang terparah adalah kecantol cewek sexy (yang terakhir disebutkan dapat menyebabkan kangker (kantong kering), kelainan bentuk celana, serangan jantung, stress meningkat dsb....hehehe).

Pada kesempatan kali ini saya ingin mengisahkan tentang salah satu penyakit yang berasal dari luar tubuh.
Jika anda memandangi foto disebelah (ditunjukan oleh anak panah merah). Keliatan ngak tanda panahnya?? Kalau ngak kelihatan berarti mata anda masih normal (Coz emang gak ada tanda panahnya). Anda tentunya langsung paham, kira-kira penyakit apa yang akan saya bahas. Yup! gambar disebelah mengisahkan tentang pergelangan tangan kiri yang mengalami dislokasi tulang dengan disertai luka luar ringan (menurut aku loch). Gambar disebelah hampir mirip dengan patah tulang yang aku alami, perbedaannya hanya kalau difoto yang cidera adalah tangan kiri, pada diriku yang patah adalah kaki kanan. Kejadian yang aku alami pada tanggal 29 Desember 2010 itu menyisakan kisah pilu dalam perjuangan untuk mengembalikan fungsi kaki kananku seperti semula.
Alkisah bermula ketika adegan mengecat tembok rumah dimulai, tanpa disangka-sangka ternyata tangga kayu yang aku injak lebih condong ke arah kanan. Tak ayal akupun terjatuh dengan suksesnya! Semula kukira hanya akan lecet-lecet bisa ajah, eee..gak taunya daguku robek plus bonus kaki kananku patah. Para tetangga dengan sigap membawaku ke rumah seorang ahli patah tulang didaerah Paniis kecamatan Menes. Pak Haji Ahmad namanya. Tiba di TKP bertepatan dengan azan Magrib, dan konon Pak haji tidak boleh mengobati pasien sebelum azan Isya berkumandang, jadilah aku dan rasa sakitku menunggu selama 1 jam lebih di kursi tamu pasien. Sambil memegangi kakiku akupun hanya bisa memandang tembok dan jam dinding diatas kusen rumah pak haji, mendadak rasa dingin menyelimuti tubuhku, aku jadi inget film-film perang vietnam, dimana kalo ada serdadu Amerika yang mau mati doi biasanya berkata sama temennya kalau dia merasa dingin, awalnya aku bingung, kena tembus timah panas kok malah dingin??...ternyata baru kutemukan jawabannya.
Singkat kata akhirnya tibalah giliranku untuk diobati oleh sang maestro, setelah membaca doa-doa, Pak Haji berkata "Tahan Yach!!"...Setelah kalimat itu diucapkan, kaki patah itu dikembalikan ke posisi semula, pembaca yang budiman mau tau rasanya???...Wow!!...sangat Istimewa!!...Amit-amit kalo aku harus mengulanginya lagi!! Setelah memperkosa kakiku habis-habisan, kakiku dipasangi sepasang kayu kembar yang dilapisi kapas disisi kiri dan kanan, setelah itu dibalut dengan kain kafan warna putih, selesai dech! Setelah memberi amplop berisi duit ala kadarnya kamipun pamit pulang (sory nech harus diterangkan kalo amplop itu isinya duit, coz terkadang amplop itu hanya berisikan ucapan terima kasih atau kuitansi utang di kedai Pok Mimin...hehehe).
Setibanya dirumah akupun diletakan didepan Tivi, berhubung saat itu ada pertandingan Indonesia v.s Malaysia, kamipun menyaksikannya...tapi sayang entah kutukan atau apa?? setiap ada pertandingan bola, sering kali tim yang aku jagokan kalah! Dan itu terbukti ketika Timnas Indonesia kalah telak 3-0 oleh Malaysia. Malam hari ketika semua orang hendak pergi ke peraduannya, akupun bersiap-siap untuk menutup kedua belah kelopak mataku. Tapi apa lacur!! rasa sakit yang luar biasa menyerang kakiku!!...rasanya seperti ditusuk-tusuk oleh belati Rambo!! Terus-menerus tanpa jeda. Alhasil 2x24 jam tidak semenitpun aku bisa tertidur. Aku jadi teringat semboyan pak RT: "Tamu 1x24 jam harap lapor! Alhamdullilah hari ke-3 akupun bisa tidur! Walaupun hanya 1 jam saja.
Itulah tadi sepenggal kisah kasih kaki patahku, 3 bulan setelah kejadian Alhamdullilah aku sudah bisa berjalan tanpa tongkat/kruk. Walaupun pincang, tapi tetep keren kok!! :)





Jumat, 26 November 2010

Rahasia Di Balik Bom Bali I

Tadi saya iseng2 menjelajah blog tetangga, terus ada tulisan yg menarik neh tentang bom bali I, dah basi seh emang, terpidana pelakunya juga sudah almarhum, tapi masih asyik kok buat disimak, apa lagi buat agan-aganwati yang mencintai teori konspirasi. Penasarannn???...mari kita langsung ke TKP:
Dikisahkan di tengah pencarian para tersangka dan penelitian bahan bom, seorang warga Bali yang menjadi saksi korban Kadek Alit Margarini (23) secara tiba-tiba pada hari keenam 'diminta' oleh Australia untuk dirawat di negeri Kanguru. Memang 40 persen tubuhnya terkena luka bakar. Tapi sebenarnya Kadek dalam kondisi tidak kritis sdan masih bisa ditangani oleh RS Sanglah, Denpasar. Bahkan ia masih bisa bercerita tentang tempat kerjanya di Paddy's Bar. Ia mengaku melihat seseorang meletakkan bungkusan di bar tersebut. Dalam perjalanan menuju Perth Aus-tralia dengan menggunakan air ambulance, menurut pihak Australia, kondisi kesehatan Kadek menurun. Akhirnya ia diturunkan di Darwin. Di rumah sakit itulah, tepat 7 hari pasca ledakan, perempuan itu meninggal. Tanpa seizin keluarga korban, jenazah Kadek langsung dikremasi. Padahal ayah dan paman korban, Made Mandra dan Nyoman Putra, keberatan bila jenazah tersebut dikremasi oleh Australia. Ahli forensik yang ikut menangani korban bom Bali Agus Purwadianto menilai janggal pengkremasian itu. Menurutnya boleh saja dikremasi, tapi harus terlebih dahulu diotopsi untuk mengetahui kematian korban dan kepentingan hukum. “Kalau korban langsung dikremasi, maka akan muncul pertanyaan, apakah ada yang disembunyikan?” katanya. Konon ada kesaksian dari beberapa ahli forensik Australia bahwa mereka melihat tanda-tanda yang luar biasa dari korban bom Bali. Ada pula pengakuan mereka bahwa ada tanda-tanda di tubuh sebagian korban menunjukkan karakteristik efek ledakan dari bom non konvensional. Ledakan bom tersebut menewaskan 202 orang, melukai sekitar 300 orang, menghancurkan 47 bangunan, beberapa mobil terlempar ke udara sampai enam meter dan membakar ratusan mobil dari berbagai merk dan jenis. Potongan-potongan besi bangunan juga patah-patah dan bengkok oleh kuatnya tekanan ledak, kaca bangunan beterbangan ke segala arah, getaran akibat ledakan bom bisa dirasakan sampai radius 12 kilometer.
Belum juga pihak kepolisian Indonesia selesai mengadakan penyelidikan, tiba-tiba keluarlah beberapa pernyataan dan tuduhan dari pihak pemerintahan Barat. Presiden AS George Walker Bush sudah mendahului menuduh Al-Qaidah sebagai dalangnya, yang akan diamini oleh negara-negara barat yang lainnya. Sementara, Lembaga Studi Pentagon dan Israel menuduh Jamaah Islamiyah yang melakukannya.Dengan munculnya beberapa pernyataan dari negara-negara kuat yang mendahului hasil penyelidikan pihak kepolisian, sudah barang tentu sangat mempengaruhi independensi dan obyektifitas proses penyelidikan kepolisian Indonesia. Desakan negara-negara barat tersebut membuat kepolisian Indonesia ketar–ketir, karena merasa mendapat intervensi. Walau masih tetap melakukan proses penyidikan dan penyelidikan, tapi Polisi sudah tidak bisa mandiri lagi.


Perhatikan dari perkembangan pernyataan-pernyataan yang disampaikan pihak yang berkompenten pada saat itu:
Pertama, Pada hari awal pasca ledakan Tim Mabes Polri mengadakan kajian bersama dengan Tim FBI, membuat pernyataan: “Berdasarkan efek ledakan bom, besar kemungkinan material yang digunakan dari jenis C-4,” kata Kabag Humas Polri Irjen Polisi Saleh Saaf. Pernyataan tersebut diperkuat oleh keterangan Kepala BIN AM Hendropriyono, “Ya, salah satu dari bom yang dipakai adalah C-4,” disampaikan saat berkunjung ke TKP tanggal 19 Oktober 2002.
Kedua, Mark Ribband seorang ahli dan praktisi eksplosif Inggris mengatakan kepada AFP (15/10/02): “Bom C-4 memang diproduksi oleh beberapa negara, tetapi produsen utamanya adalah AS dan Israel”. Dia menambahkan: “Meskipun relatif gampang dibawa dan mudah diselundupkan, bom plastik ini tak bisa diperoleh sembarangan pihak, selain amat sulit juga mahal”. Melihat dampaknya, dia percaya bom di Bali itu punya daya ledak yang luar biasa, kalau benar itu C-4, tentu itu C-4 yang amat powerfull.
Ketiga, Joe Vialls, ahli bom dan investigator independen yang bermukim di Australia punya pendapat yang berbeda. Menurut hasil investigasi dan analisanya, bom yang meledak di Bali itu lebih dari C-4. Menurutnya, C-4 itu hanya hebat di film-film Hollywood yang dibintangi Sylvester Stallone atau Bruce Willis. C-4 itu sebenarnya hanya lebih baik dari TNT. C-4 yang standar terbuat dari 91% RDX dan 9% Polyisobotciser dan daya ledaknya 1,2 kali lebih baik dari TNT. Yang pasti kata Joe Vialls: “Skenario bom C-4 tak bisa menjelaskan mengapa bom Bali menimbulkan cendawan panas dan kawah yang cukup besar." Adanya cahaya dan cendawan panas setelah lumpuhnya aliran listrik serta munculnya kawah, bisa menjadi indikasi yang spesifik dari hadirnya senjata micronuclear. Sejumlah kalangan menyangsikan hal itu karena tidak ditemukan radiasi sinar gamma dalam kasus tersebut. Karena radiasi gamma dan neutron tidak terdeteksi, mereka menyimpulkan tak mungkin ada mikronuklir di Bali. Sanggahan itu sekilas masuk akal, tapi sebenarnya menunjukkan kurangnya wawasan akan khasanah mengenai senjata nuklir”. Nuklir konvensional memang selalu menghasilkan radiasi radio aktif, sementara yang dipakai di Bali adalah mikronuklir non konvensional yang disebut SDAM (Special Demolition Atomic Munition). Dilengkapi reflector neutron, mikronuklir ini didesain sedemikian rupa hingga tidak sampai menghasilkan sinar gamma dan neutron yang gampang disidik oleh alat Geiger Counter, limbah yang dihasilkan SDAM itu berupa awan panas dan sedikit sinar alpha. Maka jika mendeteksi radiasi mikronuklir SDAM dengan menggunakan alat itu jelas salah alamat, pasti tak akan terukur adanya radiasi gamma dan neutron, kecuali memang di TKP terdapat bahan radioaktif Uranium. Sedangkan bahan yang dipakai untuk membuat SDAM umumnya adalah Uranium 238 dan Plutonium 239. SDAM tidak meninggalkan jejak radiasi neutron dan atau sinar gamma, hanya menghasilkan panas dan sedikit pertikel alpha. Partikel itu tersedia dalam jumlah amat sedikit, sekitar satu partikel dalam radius dua meter. Itu pun bisa hilang atau tidak terdeteksi setelah TKP kena hujan, atau partikel terhirup oleh para korban yang telah dievakuasi dan diabukan di Australia. Persoalannya, para petugas kepolisian sudah kehilangan momen dan kesempatan untuk menjejak partikel alpha yang menjadi ciri khasnya.
Keempat, Kepala Staf TNI Angkatan Bersenjata (KSAD) Jenderal Ryamizard Riyacudu (kini sudah pensiun) mengatakan: “Saya yakin bahwa bom yang meledak di Bali adalah buatan luar negeri, dan bukan buatan orang Indonesia. Bom yang begitu dahsyat seperti itu tidak mungkin produk dalam negeri, itu pasti produk luar negeri”, ujarnya usai memberikan pengarahan kepada prajurit Kopassus Grup 2 dan Brigif 413 Kostrad di Markas Kopassus Grup 2 Kandang Menjangan Solo (12/11/02). Menurut Ryamizard, “Indonesia sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir atau sejenisnya. Tapi kalau ada orang kita yang disuruh saya tidak tahu, serahkan saja pada polisi. Tapi saya yakin ada orang luar yang terlibat,” jelasnya.
Kelima, Kapten Rodney Cox, seorang tentara Australia yang kebetulan pada saat kejadian berada didekat TKP dan menyaksikan dasyatnya efek ledakan bom tersebut mengomentari kejadian itu, katanya: “Saya pernah mengikuti kursus Demosili, tapi tak pernah menyaksikan efek ledakan yang begitu hebat”.Kesaksiannya yang cukup detail itu mengundang analisis lebih jauh terhadap identitas bom Bali. “Pernyataan listrik mati sebelum adanya kilatan cahaya pra ledakan telah menjadi petunjuk kuat dan tak terbantahkan, bahwa masa kritis dari suatu senjata mikronuklir telah tercapai” kata Joe Vialls.


Bom kecil di Paddy’s Bar hanya menimbulkan kerusakan lokal, 10 detik kemudian meledaklah bom ke-2 di Sari Club yang sangat dahsyat, menyebabkan seluruh aliran dan jaringan listrik di kota saat itu lumpuh total oleh pengaruh gelombang elektromagnetik SREMP (Source Region Electromagnetic Pulsa) yang dipancarkan mikronuklir pada titik kritisnya. Pulsa Elektromagnetik itu merambat melalui semua medium pada kecepatan cahaya (300.000 km/jam). Karena itu Kapten Cox menyatakan, bahwa listrik mati sebelum dia menyaksikan semburan api dan awan panas di atas permukaan jalan. Laporan yang disusun oleh Kapten Jonathan Garland, wartawan koran resmi Angkatan Bersenjata Australia itu rupanya telah membuat keki dan blingsatan pemerintah dan petinggi militer Australia. Mereka khawatir kesaksian itu akan menjadi blunder bagi Australia di masa depan, maka dengan memo seorang menteri, laporan dan kesaksian penting itu kemudian dihapus dari situs ARMY.Polri Kurang Mandiri dan Tidak Konsisten Pada hari pertama pihak kepolisian Indonesia menduga kuat bahwa bom yang meledak di Bali dari jenis C-4, dugaan itu didasarkan pada efek ledakan yang dahsyat. Akan tetapi setelah kedatangan Tim Polisi Federal (Austalia Federal Police) Australia dan ASIO (Australia Secret Intelligent Organization) , pernyataannya jadi berubah-ubah. Katanya, bom yang meledak dari jenis RDX. Lalu berubah lagi, kata polisi dari jenis TNT. Bahkan Polda Jatim sempat keceplosan bicara, bahwa bom yang meledak di Bali itu mungkin bom karbit, hanya karena di sekitar TKP ditemukan bubuk potasium khlorat. Sungguh menggelikan!.

TNI Dicurigai Terlibat
Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu dan mantan staf Bakin Soeripto. Mereka secara tegas menyatakan tak percaya bom Bali itu rakitan Amrozi. Koran Singapura The Straits Times dan koran Australia The Sydney Morning Herald melansir berita, bahwa TNI mungkin terlibat dalam pengeboman di Bali. Berdalih pengakuan paling mutakhir dari Umar al-Faruq (mudah-mudahan syahid) di penjara Baghram Afganistan. Mereka menuduh Abubakar Ba’asyir telah membeli C-4 dari TNI dengan dana kiriman uang dari tokoh Al-Qaidah Usama bin Ladin. Berita fitnahan tersebut cepat direspon oleh KSAD (pada saat itu) Jenderal Ryamizard Riyacudu, dengan mengatakan bahwa TNI sampai saat ini belum mampu membuat bom Atom, bom Napalm, Mikronuklir dan atau yang sejenisnya. Lalu diadakanlah demo bom TNT (kemampuan yang dimiliki PT. Pindad) di Cibodas pada akhir Oktober 2002. 2 kg bom TNT disiapkan, 2 meter darinya diletakkan 2 botol aqua berisi bensin, di sampingnya lagi ada gubuk kecil dari bahan kayu. Setelah bom TNT tadi diledakkan, maka menimbulkan suara cukup keras dan tanahnya pun bergetar, pohon dan tanaman di sekitarnya rusak. Tapi anehnya 2 botol aqua yang berisi bensin tidak tumbang apalagi terbakar, begitu juga gubuk kayunya juga masih tegak berdiri. Uji coba tersebut dilakukan oleh Pusdik Zeni TNI-AD yang dipimpin oleh Kol. Czi Puguh Santoso. Keterusterangan dari pihak TNI akan batas kemampuan PT. Pindad sebenarnya sangat disayangkan, karena rahasia batas kemampuannya akan diketahui pihak lawan. Tapi keterusterangan tadi bisa dimaklumi, apa sebabnya?Nah kalau berita dari dua koran Singapura dan Australia itu di-blow up dan dilansir oleh mass media dunia, maka TNI dan juga negara Indonesia bisa terancam diserang oleh pihak luar, mungkin akan mengalami nasib seperti Iraq. Coba perhatikan beberapa kejadian sebelumnya:

Paska runtuhnya gedung WTC tanggal 11 September 2001, Presiden AS George Walker Bush menabuh genderang perang dunia melawan para pejuang dan aktivis muslim dengan julukan “teroris” (the global war on terrorism atau G-WOT). Dia mengajak kepada masyarakat internasional untuk mendukung langkahnya, dengan dua opsi: “Carrot or Stick”; bersama kami (AS) memerangi para teroris akan mendapat hadiah carrot/wortel/ dollar, tidak mau mendukung AS akan menerima pukulan stick/tongkat/ rudal.Presiden Megawati pernah mengatakan bahwa, jika AS menyerang Indonesia, maka tak akan mampu melawan tentara George Walker Bush dan tidak akan bertahan walau hanya sepekan. Mengapa Presiden Megawati sampai mengatakan demikian? Bisa jadi karena kemampuan militer Indonesia memang sangat jauh tertinggal jika dibandingkan dengan tentara AS. Apakah George Walker Bush serius dengan ancamannya, bila Indonesia tidak mau mendukungnya akan diserang?Jawabnya: Sangat mungkin! Tapi, dari dua pilihan tersebut, carrot-lah yang dipilih Megawati. Ia menyeret bangsa Indonesia menjadi sekutu Bush, menjadi “Proxy Forces” atau agen perantara untuk menangkapi rakyatnya sendiri . Karenanya, ia langsung mendapatkan upah di depan (down payment) sebesar US $ 500 juta. Katanya, untuk menstimulir perekonomian nasional. Terbuktilah sekarang. Ujian harta ini lebih berbahaya daripada kenaikan BBM.

TKP sejatinya:

Selasa, 06 Juli 2010

Curug Gendang Carita












Anda pernah merasa bingung buat mengisi waktu libur, mau ke gunung atau ke pantai? Cobalah bermain ke Taman Wisata Alam Carita. Disana ada pantai sekaligus wisata alam pegunungan Curug Gendang. Curug Gendang memiliki ketinggian 170 m dari permukaan laut, terletak kurang lebih 5 km arah utara Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Propinsi Banten, Republik Indonesia. Curug Gendang memiliki mata air terjun yang berasal dari Gunung Pangajaran. Air terjun memiliki ketinggian 7 meter dan kedalaman 13 meter serta luas 10 meter. Objek Wisata Alam ini dikelola oleh BKSDA III (Balai Konservasi Sumber Daya Alam III). Nama Curug Gendang berasal dari kata "Curug" dan "Gendang". Curug berarti "air" sedangkan "gendang" adalah salah satu alat musik khas Indonesia yang cara memainkannya dengan cara dipukul. Konon dinamai seperti itu karena curahan air terjun yang jatuh menyerupai suara gendang yang sedang dipukul. Maka air terjun yang semula dinamai Curug Citajur itu berubah menjadi Curug Gendang. Ditempat ini kita bisa melakukan aktifitas berkemah, hiking, berenang, foto-foto, memanjat pohon, atau ingin berakting seperti Tarzan dan Citah? Semua bisa dilakukan.
Untuk bisa ke Curug Gendang bisa melalui 2 jalur darat. Jalur Anyer dan Jalur Pandeglang.

Jika anda dari Jakarta atau dari Pulau Sumatra dan ingin menikmati pemandangan pantai dalam perjalanan, saya sarankan untuk mengambil jalur Anyer. Dari Tol Merak keluarlah melalui Gerbang Tol Serang Barat/Cilegon. Anda akan melewati suasana Kota Cilegon yang ramai dan bercuaca cukup dingin (itu jika anda naik mobil baru yang ber AC) tapi jika jalan kaki???.."wow panas banget booo!". Tidak jauh dari Tanah abangnya Orang Cilegon -+ 100 meter, anda akan melewati "Simpangan" jalan, kiri dan kanan. Ambilah jalan yang kekiri yang ke arah Anyer. Perjalanan dari "Simpang" sampai ke Curug Gendang memakan waktu -+ 1,5 jam perjalanan, sebenarnya bisa lebih cepat, jika seandainya saja Pemerintah Daerah Banten mau sedikit saja meluangkan waktu untuk memperbaiki jalan yang sudah rusak parah dan jika musin hujan lebih mirip arena latihan militer lengkap dengan lubang-lubang jebakannya. Tapi jika anda memang berjiwa petualang maka rusaknya jalan itu akan nampak seperti ajang lomba joget sesama penumpang kendaraan bermotor. Memasuki wilayah Anyer, sepanjang jalan anda akan disuguhi keindahan pantai Anyer, Karang bolong dan Carita salah satunya seperti foto diatas (Karang Bolong). Jika anda berminat hentikan saja kendaraan anda dipinggir jalan untuk menikmati pemandangan pantai Banten. Memang sebagian besar pantai-pantai yang ada telah dimiliki oleh orang, sehingga jika anda mau masuk dikenakan biaya. Namun usah khawatir biasanya biaya yang dikenakan tidak terlalu besar antara Rp.2000 s.d Rp.5000 per orang, tergantung tingkat keramaian dan keindahannya. Tapi jika anda ingin mencoba yang gratisannn!...ada kok!. Memasuki wilayah Pantai carita perhatikan sebelah kiri anda! -+ 200 meter dari Gapura Pantai Pemda ada Gapura berwarna putih dan ada tulisan Taman Wisata Carita seperti dibawah ini: Jika sudah memukan gerbang putih dan bertuliskan seperti itu,
"Selamat!" anda telah berhasil melewati segala macam godaan untuk mencapai Curug Gendang. Jarak dari gapura sampai ke gerbang Curug Gendang -+ 2 km menanjak. Jika anda menaiki kendaraan pribadi, akan memakan waktu -+ 30 menit. Namun jika tidak ada kendaraan pribadi! Maka bersiaplah untuk mendaki dengan berjalan kaki -+ 2 jam perjalanan. Namun usah khwatir, sepanjang perjalanan anda akan dihibur dengan pepohonan besar yang rindang dan jika beruntung anda dapat bertemu beberapa jenis ular daun, belalang, kupu-kupu serta beberapa macam serangga lainnya dipinggir jalan. Selain pepohonan yang rindang, jika sudah mencapai ketinggian tertentu maka kita bisa melihat pemandangan Selat Sunda dan suasana Pantai Carita dari ketinggian. Sungguh luar biasa indah!..Indah Luar biasa! Memasuki Gerbang Curug Gendang anda akan dikenakan biaya retribusi Rp. 2000/orang (kalau belum naik yah!). Di Gerbang ini bagi anda yang membawa kendaraan harus diparkir di lapangan yang luas, karena setelah gerbang, jalan hanya dapat dilalui dengan berjalan kaki.

Dari Gerbang, perjalanan diteruskan lagi sepanjang 1 km mendaki dan menurun. Sepanjang jalan setapak itu mata anda akan kembali disuguhi oleh rimbunnya pepohonan, hawa yang sejuk dan atraksi beberapa ekor monyet liar yang melompat dari pohon ke pohon. Setelah itu anda akan menikmati jernih dan dinginnya air di Curug gendang.